Ringkasan Buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck
Visual dari Unsplash
Kalau kamu mulai muak dengan petuah motivasi yang menyuruhmu untuk selalu berpikir positif setiap saat, maka buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck karya Mark Manson adalah bacaan yang sangat pas buatmu. Buku ini menampar kita dengan realita bahwa hidup ini memang tidak selalu indah dan itu sama sekali bukan masalah besar.
Berbeda dengan buku pengembangan diri pada umumnya, karya Mark Manson ini justru mengajak kita untuk memeluk ketidaksempurnaan. Sama seperti pentingnya membuang gengsi dan ego demi kesehatan finansial yang sudah kita kupas tuntas di ringkasan buku The Psychology of Money, buku ini mengajarkan bahwa kita harus pintar pintar memilih peduli pada hal yang penting saja dan membuang sisanya. Yuk kita selami pemikirannya yang berani ini.
Seni Bodo Amat yang Sesungguhnya
Banyak orang salah paham dan mengira bersikap bodo amat artinya menjadi manusia apatis yang tidak peduli pada apa pun. Padahal menurut Mark Manson seni bodo amat adalah tentang menyortir prioritas. Kamu hanya punya kapasitas energi dan waktu yang terbatas, jadi jangan buang energi itu untuk hal hal remeh yang tidak penting.
Jika kamu marah besar hanya karena pelayan restoran salah mencatat pesananmu, itu artinya kamu tidak punya masalah hidup yang lebih bermakna untuk dipedulikan. Temukan hal hal besar yang layak mendapatkan perhatianmu sehingga masalah kecil akan otomatis terabaikan.
Hukum Kebalikan (The Backwards Law)
Buku ini mengenalkan konsep Hukum Kebalikan dari filsuf Alan Watts. Intinya semakin keras kamu berusaha menjadi bahagia dan sukses, kamu justru akan semakin merasa hampa. Mengapa demikian? Karena keinginan untuk selalu mengejar sesuatu hanya akan terus mengingatkanmu pada apa yang tidak kamu miliki.
Sebaliknya jika kamu bisa menerima kenyataan negatif bahwa hidup ini memang penuh tantangan, kamu justru akan merasa jauh lebih damai dan positif.
Memilih Masalah yang Tepat
Jangan pernah bermimpi memiliki hidup tanpa masalah karena itu mustahil. Kebahagiaan justru datang dari proses memecahkan masalah. Pertanyaannya bukanlah "apa hal yang ingin kamu nikmati?" melainkan "rasa sakit apa yang rela kamu tanggung?".
Jika kamu ingin punya tubuh sehat dan bugar, kamu harus rela menanggung rasa sakit dari olahraga yang melelahkan. Kamu tidak akan pernah mencapai tujuanmu tanpa kesediaan untuk menikmati proses perjuangannya.
Tanggung Jawab vs Kesalahan
Salah satu pelajaran paling menohok dari buku ini adalah pemisahan antara kesalahan dan tanggung jawab. Kita sering kali menyalahkan keadaan atau orang lain atas penderitaan kita.
| Kesalahan (Fault) | Tanggung Jawab (Responsibility) |
|---|---|
| Berhubungan dengan masa lalu | Berhubungan dengan masa kini |
| Fokus pada siapa yang menyebabkan masalah | Fokus pada bagaimana kita merespons masalah |
| Sering kali di luar kendali kita | Sepenuhnya berada dalam kendali kita |
Kamu mungkin tidak bersalah saat seseorang menabrak mobilmu, tapi kamu bertanggung jawab penuh atas bagaimana kamu merespons kejadian tersebut. Apakah kamu akan marah marah sepanjang hari atau mengurusnya ke bengkel dengan tenang? Pilihan itu mutlak ada di tanganmu.
Kesimpulan
Hidup ini terlalu singkat untuk mempedulikan opini semua orang dan memikirkan semua masalah sepele.
- Terima fakta bahwa dirimu tidak seistimewa itu, dan justru pemikiran inilah yang akan membebaskanmu dari tekanan sosial.
- Kematian adalah kepastian, jadi gunakan sisa waktumu untuk peduli pada nilai nilai yang benar benar sejati.
- Berhentilah menghindar dari rasa sakit karena penderitaan adalah guru terbaik untuk berkembang.
- Memilih apa yang pantas untuk dipedulikan adalah kunci utama menuju kehidupan yang bermakna.
Frequently Asked Questions (FAQ)
Dari semua masalah yang sedang kamu hadapi saat ini, mana nih yang benar benar pantas untuk kamu pedulikan dan mana yang sebaiknya mulai kamu abaikan? Yuk bagikan unek unek dan pendapatmu di kolom komentar!
